Sepotong Cerita Masa Lalu : Bersekolah Tidak Membuat Miskin

Assalamu'alaikum..

Mengenyam pendidikan tinggi apalagi bisa sampai kejenjang sarjana bahkan doktor, merupakan sebuah rizki yang sangat luar biasa dari Tuhan. Apalagi bagi kaum Adam yang bisa mencapai tingkatan itu, otomatis masuk jadi list pria idaman bagi para mertua. Haha. Akan tetapi bagi kaum Hawa, stigma negatif seringkali datang silih berganti. Di mulai dengan sebutan ngabisin duit aja, sampai yang terparah disebut perawan tua. 

Secara umum, di negara kita masih sedikit perempuan yang mampu melanjutkan pendidikan, bahkan hanya untuk menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dilingkungan ku misalnya, teman-teman yang ku temui di bangku Sekolah Dasar (SD) hanya sedikit yang dapat melanjutkan ke jenjang SMP. 

Alasan kemiskinan merupakan mayoritas pendapat yang ku temui, namun setelah obrolan lebih lanjut. Ternyata kebanyakan dari nya tidak melanjutkan pendidikan karena orang tua yang memilih anak nya untuk segera bekerja ataupun menikah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak seusia itu harus bekerja bahkan menikah. Aspek psikologi yang belum matang, masa bermain yang hilang, dan bahkan kondisi medis yang belum siap bagi rahim anak-anak perempuan.

Suatu waktu, sempat keluarga ku mengalami keadaan ekonomi yang sungguh sulit. Bahkan harus susah payah melepaskan harta ini itu untuk membiaya sekolah kami bertiga, di SMA, SMP dan SD. Karena tekad kuat kedua orang tua ku untuk menyekolahkan kami, maka Tuhan selalu saja memberikan jalan. Buat ku yang beragama Islam, kedua orang tua ku selalu menanamkan bahwa rizki anak-anak yang sekolah akan selalu mengalir dari Tuhan melalui jalan yang tak terduga. Hal itulah yang mendasari kami bertiga dapat duduk di bangku universitas.

Tidak berakhir sampai disitu, saat perempuan mulai berpendidikan tinggi maka badai lebih dahsyat akan segera menunggu. Hal serupa juga terjadi pada ku, stigma wanita yang berpendidikan tinggi akan sulit mencari calon suami juga datang. Padahal jelas sekali jodoh itu bukan ada ditangan manusia, melainkan pada Tuhan yang sudah mencatatkan nya bahkan sebelum manusia dilahirkan. Sungguh klasik sekali stigma yang ada di masyarakat, namun tetap saja gurih untuk diceritakan kembali. 

Pada dasarnya ketika pikiran yang buta berusaha membenarkan keinginannya, maka beribu alasan pun akan digunakan untuk mendukung alasan nya.

Segitu aja,

Have a nice day!



Komentar

Postingan Populer